Posted in Uncategorized on Juli 18, 2008 by sigit dwi antoro

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Qs Al Fath : 29)

HILANGNYA ARAH PEMBAHARUAN MUHAMMADIYAH

Posted in MATERI on Juli 7, 2008 by sigit dwi antoro

Jika dicermati, starting point kelahiran Muhammadiyah oleh KH.Ahmad Dahlan bertolak dari dua premis. Pertama, fenomena sosial empiris yang memperlihatkan betapa tertingalnya umat Islam dalam percaturan modernitas. Kedua, begitu jauhnya umat Islam terlepas dari semangat al-Qur’an dan keteladanan Rasul Allah Muhammad saw. Dari sinilah KH. Ahmad Dahlan mengambil langkah mencari solusi dalam bentuk pencerahan (enlightenment, tanwir) dan pembebasan (liberasi) umat Islam dari keterbelakangan dan kejumudan.

Pencerahan beliau lakukan dalam rangka membebaskan umat dari kejumudan dengan cara kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, sementara langkah liberasi di lakukan dengan cara mendirikan lembaga-lembaga pelayanan publik modern seperti sekolah, rumah sakit dan panti asuhan. Lembaga-lembaga seperti ini sebelumnya hanya dimiliki oleh pihak Katolik yang memang terpelajar di bawah “bimbingan” Belanda yang memang sudah hidup dalam atmosfir modern. Suka atau tidak KH.A. Dahlan meniru orang lain dalam hal ini Katolik dalam merealisasikan ide-idenya. Sebab pelayanan publik seperti ini merupakan human values yang bisa dilakukan oleh agama apapun termasuk Islam. Kasus seperti ini bukan yang pertama di kalangan umat Islam. Kita ingat kegemilangan Abbasiyah sebagai puncak peradaban Islam tercapai tak lepas dari ketekunan umat Islam ketika itu belajar dari Yunani yang non-Islam. Bahkan buku-buku Yunani diangkut ke Arab dipelajari dan diterjemahkan oleh lembaga kekhalifahan yang bernama Bait al-Hikmah.

Pencerahan dan pembebasan yang dilakukan oleh KHA. Dahlan untuk ukuran waktu itu merupakan langkah pembaharuan yang sangat progresif. Beliau terlalu cepat lahir untuk zamannya. Tetapi kini semua itu menjadi hal yang biasa dan tidak lagi sesuatu yang baru. Oleh karena itu jika Muhammadiyah terjebak pada rutinitas pragmatis hanya sibuk mengelola amal usaha, apalagi amal usaha tersebut juga tidak mampu berkompetisi dengan amal usaha sejenis milik orang lain, itu artinya Muhammadiyah telah kehilangan arah pebaharuan dan progresifitasnya.

Boleh saja Muhammadiyah berkilah dengan perkembangan amal usaha yang setiap hari secara kuantitatif bertambah sebagai wujud kemajuan Muhammadiyah, tetapi sebuah gerakan pembaharuan tidak cukup hanya diukur dari jumlah amal usaha yang ada tetapi juga produk-produk pemikiran atau ijtihad yang dihasilkan. Satu hal inilah kini Muhammadiyah tetap saja masih stagnan jika tidak boleh dikatakan jumud, sesuatu yang menjadi sasaran pembaharuan Muhammadiyah pada awal kelahirannya.

Kelemahan mendasar

Terdapat beberapa kelemahan mendasar yang kini terjadi di lingkungan Muhammadiyah. Pertama, ketidakjelasan rumusan pembaharuan. Sebenarnya paradigma pembaharuan Muhamadiyah yang tepat untuk saat ini seperti apa. Sebab rumusan pembaharuan yang selama ini digunakan yakni “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah memerlukan penjelasan lebih lanjut. Organisasi Islam seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan Persatuan Islam (Persis) juga mengangkut hal yang sama. Dan, jika Muhammadiyah kembali al-Qur’an dan Sunnah dengan model pemahaman yang dilakukan oleh LDII dan Persis, itu artinya Muhammadiyah telah out of date alias tidak njamani lagi. Memang model seperti itu merupakan salah satu model pembaharuan pemahaman Islam tetapi pembaharuan yang bersifat set back, mundur ke belakang. Dalam sejarah pembaharuan pemikiran Islam corak pemahaman Islam seperti ini sering disebut sebagai aliaran Hanbaliyah Baru (Neo Hanbalism).

Model Neo Hanbaliyah kurang tepat untuk masa kini karena akan membawa Islam dalam keterjebakan makna teks al-Qur’an dan Sunnah yang sangat sempit. Walaupun sah-sah saja jika itu sebagai pilihan. Hanya saja, jika model ini dipakai Muhammadiyah dalam melakukan pembaharuannya, maka akan mengalami kesulitan dalam perkembangannya mengingat kita akan berhadapan dengan perubahan ruang dan waktu yang memerlukan kontekstualisasi dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah. Sahabat Umar r.a. pun jauh-jauh hari telah berujar; hukum-hukum Islam akan berubah seiring perubahan tempat dan wilayah. Atau kita merujuk pada pernyataan Syekh Muhammad Abduh al-Islamu shalihun ‘ala kulli zamanin wa makanin ( Islam itu selalu sesuai dengan ruang dan waktu). Tetapi untuk itu semua tidak bisa dilakukan jika Islam hanya dipahami sebatas teks al-Qur’an dan Sunnah tanpa adanya kontekstualisasi.

Oleh karena itu perlu adanya rumusan kembali (reformulasi) terhadap paradigma kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah yang lebih progresif agar Muhammadiyah bisa lebih eksis dalam memainkan peran sebagai gerakan pembaharuan Islam di Indonesia. Terlebih lagi Muhammadiyah memiliki lembaga pelayanan publik yang mau tidak mau harus berhadapan dengan situasi di mana lembaga itu berada, baik secara hukum, tradisi dan tata sosial yang lain. Lembaga-lembaga sosial ini akan sulit berkembang jika hanya terkungkung oleh makna teks al-Qur’an dan hadits tanpa sentuhan ijtihad kreatif dan progresif.

Organisasi semacam Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini dikenal sebagai tradisional dan terikat madzhab justru telah terllebih dulu merumuskan paradigma pembaharuannya. Pembaharuan NU dirumuskan dalam sebuah jargon al-muhafadhah ‘ala qadim al-shalih wa al-akhdzu ‘ala jadid al-ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik). Rumusan ini sangat jelas bagaimana bersikap terhadap tradisi masa lalu, kini dan yang akan datang.

Atau memang kini Muhammadiyah bukan gerakan pembaharuan lagi. Boleh jadi demikian mengingat dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) tak ditemukan klausul yang menyatakan bahwa Muhamadiyah adalah gerakan pembaharuan. Wajar jika produk yang dihasilkan hanyalah betambahnya amal usaha secara kuantitatif bukan produk-produk ijtihad kreatif dan progresif tentang bagaimana menciptan social enginereeng sehingga nilai-nilai kemanusiaan tersinari oleh nilai-nilai unversal al-Qur’an dan menampilkan Islam yang lebih kosmopolit.

Dalam AD/ART Muhammadiyah hanyalah dikatakan sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah (Ps. 1 ayat 2). Walaupaun sebenarnya makna pembaharuan secara implisit melekat dalam kata gerakan. Demikan juga Muhammadiyah berdasarkan as-Sunnah bukan al-hadits, sebab makna sunnah lebih luas dari hadits.

Ruang Ijtihad

Kedua, hilang atau menyempitnya ruang ijtihad. Pada awal berdirinya Ahmad Dahlan muda begitu kreatif dalam berijtihad, khususnya ijtihad sosial. Tetapi dalam perkembangannya proses kreatif yang bernuansa pembahauan (tajdid) menyempit penjadi pemurnian (purifikasi). Celakanya, purifikasi diartikan sebagai skriptualisasi dengan standar teks al-Qur’an dan hadits sehingga ketika ada fenomena yang secara tekstual dalam kedua sumber hukum tersebut dianggap sebagai bid’ah dan sesat. Padahal kita tahu banyak persoalan dan nilai-nilai sosial seperti kearifan-kearifan lokal yang secara tekstual tidak tercantum dalam al-Qur’an dan hadits.

Mestinya, jika Muhammadiyah tidak ingin kehilangan eksistensinya di tengah arus kehidupan ketika ada nilai-nlai yang secara tekstual tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits maka di situlah sebenarnya kita diberi ruang untuk dengan sungguh-sungguh menggunakan kemampuan yang kita miliki untuk memutuskan hukum sendiri. Inilah yang dinamakan dengan ijtihad.

Persoalannya adalah ketika ruang ijtihad itu justru tertutup oleh paradigmanya sendiri yakni ruju’ ila al-Qur’an wa al-Hadits (kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits). Di sinilah lalu Muhammadiyah menjadi sulit bergerak dan berkembang karena memang kehilangan pijakan kreatifitas teologisnya. Muhamadiyah mengalami kekeringan intelektual akibat kehilangan rujukan tradisi intelektual klasik yang sedemikian luas sebagai inspirasi semangat berfikir/berijtihad.

Kelemahan ini berimbas terhadap banyak hal di antaranya Muhammadiyah kesulitan menanamkan tradisi keberagamaannya di tengah masyarakat secara mengakar. Jika para ulama terdahulu berhasil menciptakan tradisi-tradisi yang mampu menciptakan komunitas umat, hal ini belum mampu dilakukan oleh Muhammadiyah. Fenomena ini dapat dilihat bahwa komunitas Muhammadiyah sebagian besar hanya berada di sekitar amal usahanya seperti kampus, sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya. Itu pun karena mereka sekolah atau bekerja di amal usaha Muhammadiyah tersebut. Lembaga-lembaga pelayanan publik milik Muhammadiyah nampaknya belum mampu memuhammadiyahkan orang-orang yang ada di dalamnya sekalipun, apalagi masyarakat sekitarnya.

Imbas lain yang tak kalah pentingnya adalah Muhammadiyah kesulitan mengantarkan elitnya untuk tampil dalam pentas politik baik lokal maupun nasional. Prof. Dr. HM. Amien Rais sebagai mantan ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah gagal di pentas nasional sebagai presiden dan adiknya Drs. H. Dahlan Rais, M. Hum gagal menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili Jawa Tengah. Bagaimana mungkin seorang ketua Muhammadiyah Jawa Tengah kalah pengikut dengan seorang ketua PGRI. Tetapi itulah realitasnya. Bersih, jujur dan cerdas saja nampaknya belum cukup untuk mengangkat seseorang tampil di arena politik yang juga penting sebagai sarana dakwah. Logika politik demokrasi memang bukan persoalan nilai-nilai moral seperti kebaikan dan kejujuran tetapi banyak-banyakan pengikut. Maka celakalah mereka yang tidak memiliki banyak pengikut di samping uang tentunya.

Ketiga, kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten di bidang pemikiran Islam yang bisa diterima oleh sebagian besar anggota Muhammadiyah. Bagaimanapun, anggota Muhammadiyah itu segmentatif, beragam termasuk dalam corak keberagamaannya. Jika ada tokoh ingin berijtihad yang terkesan liberal dituduh tidak Muhammadiyah lagi. Ketika ada anak muda Muhammadiyah berwacana dalam pemikiran Islam dianggap telah kebablasan seperti yang dialami oleh teman-teman Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Padahal kalau kita tengok pemikiran dan langkah KHA. Dahlan, beliau merupakan salah seorang yang oleh Kurzman digolongkan sebagai tokoh Islam liberal sejajar dengan Syekh Muhammad Abduh, Iqbal, Fazlurrahman dan sebagainya.

Namun demikian kita tidak boleh berputus asa. Sejelek apapun Muhammadiyah masih yang terbesar dan mungkin juga terbaik di antara organisasi Islam di Indonesia atau bahkan seluruh dunia. Kemandegan prestasi intelektual Muhammadiyah berpeluang besar untuk diperbaiki jika terus-menerus wacana keislaman senantiasa bergulir dalam kajian-kajian Muhammadiyah dari tingkat ranting sampai pusat. Situasi inilah yang sekarang sudah mulai nampak. Kajiaan-kajian keislaman yang ada telah membawa kader-kader Muhammadiyah pada wawasan komparatif yang membuatnya tak lagi sempit dalam memahami Islam.

Demikian juga kader-kader Muhammadiyah semakin arif dalam menyikapi kearifan-kearifan lokal yang memang merupakan bagian dari univesalitas Islam.

Muktamar 2005 di Malang menjadi momentum strategis untuk membenahi kekurangan-kekurangan yang ada termasuk kemandegan ijtihad yang belum juga beranjak walaupun telah lama disadari oleh pimpinan Muhammadiyah. Jika kita menerima salah satu hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa akan akan muncul pemabaharu agama dalam setiap kurun waktu satu abad, itu artinya Muhammadiyah juga sudah saatnya merumuskan kembali paradigma pembaharuannya yang barangkali sudah usang.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.